RSS Feed

Jeritan di Balik Dinding

“oek, oek, oek, tolong aku, keluarin aku dari tempat kotor ini, bauk, oek, oek”, teriakku dengan tangisan. Aku tidak tau apakah ada yang tau dengan maksud teriakanku ini, karena aku hanya bisa menangis,seolah lidahku kelu membisu. Sudah ku coba berulang kali mengeraskan suaraku tapi tak ada yang mengangkatku dari tempat kotor ini. Barang apa yang ada di samping ku ini? Kenapa begitu bau, apakah di dunia ini semua benda baunya seperti ini? Ah, seandainya waktu bisa berputar kembali, aku tak akan ada di tempat yang kotor ini.

Ini semua karena dua manusia itu, manusia yang tak bertanggung jawab, manusia yang hanya ingin kenikmatan dunia saja, enak sekali mereka, setelah bersenang-senang mereka malah mencampakkan aku di tempat yang kotor ini. Akan ku tuntut kalian di akhirat kelak”. Gerutuku dalam tangis sambil terus meminta tolong hingga aku lelah karena tak ada yang mendengarku atau mungkin orang di dunia ini pada tuli semua aku tak tau, yang jelas tak ada yang menolongku dan mengangkatku dari tempat ini. Oh.. seandainya waktu itu tak terjadi. *** Malam itu sungguh dingin, Vira menghangatkan tubuhnya dengan melipatkan ke dua tangannya di dadanya, sementara angin terus menggoda hingga masuk ke pori-pori kulit tubuhnya. Sekali-kali ia memainkan rambut Vira yang panjang sebahu hingga berkeinginan tangan Ari untuk membelainya sambil melemparkan senyum yang sepertinya penuh dengan ketulusan. Mereka terus berjalan namun bibir mereka diam menambah kesunyian malam dan kalaupun mata saling bertemu mereka hanya bisa tersenyum hingga orang ke tiga semakin senang untuk memainkan jurus mautnya. Tak tau apa yang ada di hati, hanya hati Ari ingin sekali meneriakkan kalimat “Kita jalannya lambat-lambat aja ya, biar sampai rumahnya lama”. ***

Seperti kebanyakan anak muda sekarang, setiap malam minggu berwakuncar ke rumah sang kekasih pujaan. Katanya sih, “malam minggu itu malam yang panjang”, mereka keluar dengan pasangan masing-masing. Ada yang nonton ke bioskop, ada yang keluar untuk makan atau sekedar jalan-jalan malam. Sementara VIra dann Ari habis menikmati malam minggunya dengan nonton di bioskop. “Hati-hati ya Nak Ari, pulangnya jangan malam-malam, nak Vira tolong di jaga”. Itu pesan Ibu Vira ketika Ari permisi ingin mengajak Vira menonton. Heran, orang tua sekarang kok malah mendukung anaknya keluar rumah dengan orang lain, orang yang belum tentu jadi suaminya. ***

Byuur.. Ari mengambil tangan Vira untuk mencari tempat untuk berteduh, Ari bersyukur karena lima ratus meter tak jauh dari tempat mereka berjalan ada sebuah gubuk untuk tempat berlindung. Sesampainya di gubuk dua manusia tadi mengibas-ibaskan pakaian mereka yang sempat basah. Dan Vira mengusap-ngusap rambutnya sambil menunggu hujan berhenti dari perintah Tuhannya dan duduk di atas bamboo-bambu yang telah disediakan oleh pemilik bamboo yang pergi entah kemana. Melihat Vira yang sedang kedinginan, Ari membuka jaket yang sedari tadi dipakainya dan memakaikannya ke tubuh Vira. Makhluk-makhluk halus yang kini semakin banyak di samping mereka terus membujuk dan merayu mereka. Jaket yang dipakaikan Ari ke tubuh Vira pun tak bisa menghangatkan tuibuhnya, sementara hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda berhentinya. Ari juga merasa kedinginan, celah-celah pintu godaan semakin terbuka lebar dan semakin menggoda mereka dengan mawar-mawar duri penuh cinta. ***

Bunga-bunga melati mulai mengembang, menebarkan senyum bagi siapa yang menegurnya, sementara bunga sedap malam mulai mengatup karena matahari mulai memantulkan cahayanya ke bumi. Dan cahaya itu pulalah yang membangunkan dua insane yang sedang gelisah atas apa yang baru terjadi. “Abang akan tanggung jawab dik, tidak mungkin abang meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini, adik percayalah pada abang. Setelah ini adik jangan bilang dulu ke keluarga, nanti kalau ada apa-apa kabari abang, abang akan segera pulang kampong untuk membicarakan hubungan kita ke keluarga abang, adik jangan panic ya!” kata Ari meyakinkan. “Bener kan bang? Abang jangan bohongi Vira ya!” jawab Vira sambil sesegukan karena menangis. “Terus sekarang gimana? Abang antarin Vira pulang kan? Tanyanya. “Iya, sekarang kita pulang ya, ini salah satu bukti kalau abang tanggung jawab”, kata Ari terus meyakinkan. ***

Tok, tok, tok “Vira! Kok baru pulang? Kemana aja semalaman?” Tanya Ibu Vira khawatir. “Ini Buk, tadi malam kami kehujanan dan Vira sakit kepala, pening katanya, jadi saya bawa ke puskesmas yang terdekat”, jelas Ari. Ibu Vira hanya mengangguk percaya. Entah jurus apa yang digunakan Ari hingga Vira dan ibunya begitu mempercayainya. *** Sebulan setelah malam itu, aku merasa berada di tempat yang nyaman, tempat yang sangat layak untuk orang seusiaku, sangat berbeda dengan tempat yang saat ini kusinggahi dan sungguh sangat kontras. Aku senang karena sepertinya aku berada di tempat orang-orang yang saying padaku. Makan,minum dan segala kebutuhanku selalu ada jika kubutuhkan. Meskipun terkadang aku suka meminta yang aneh-aneh seperti buah mangga, tapi aku yang baru seumur jagung bisa mendapatkannya. Pernah sekali aku sangat ingin memakan buah mangga, tapi tak ada yang memberiku, sepertinya orang-orang yang saying padaku sedang sibuk. Akhirnya dengan kekuatan kemanjahanku pada pemilik rumah ini aku demo di rumahku sendiri dengan memukul-mukul dinding yang ada di rumahku dan setengah jam kemudian permintaanku terpenuhi. Senangnya, setiap apa yang kupinta selalu kudapatkan. Inilah yang kurasa selama tiga bulan aku berada di sini. ***

“Mana janji abang? Abang bilang dulu mau tanggung jawab? Vira malu bang, perut Vira semakin hari semakin membesar!” Kurasakan sentuhan tak ramah di dinding rumahku, aku merasa seperti ada petir yang ingin menyambar rumahku. “ditambah lagi setiap kali ibu Vira melihat Vira yang bertingkah aneh, Vira selalu berbohong. Vira nggak tahan dengan keadaan ini bang.., dan apa salahnya sih kalau kita nikah aja bang?” lanjutnya. Air mataku berjatuhan, tak tau apa sebabny. Apakah karena sambaran petir tadi atau karena factor lain aku tak tau. Tapi sat ini yang kurasa adalah tiba-tiba saja aku merasa dadaku sangat sesak dan tanpa terasa air mataku membanjiri rumahku. “Adik sih, sudah abang bilang sejak awal digugurin aja tetep bandel, nah sekarang sudah besar seperti ini mau bilang apa? Terus terang abang belum siap kalau kita nikah sekarang. Terserah adik ajalah, abang nggak mau ambil pusing”. “Abang jangan tinggalin Vira!” Dadaku semakin sesak, aku merasa seperti dalam sebuah ruangan yang penuh asap. Aku sakit hati, tapi dengan siapa aku tak tau, aku merasa kalau pemilik rumah yang sedang ku sewa ini sedang bermasalah. Tiga bulan sudah aku tinggal di sini, aku merasa sangat saying padanya. Mungkin karena aku selalu bersamanya kemana pun ia pergi. Dan aku merasa kalau saat ini ia sedang tertekan dan seperti dikejar-kejar bayangan. Ah, sudahlah aku tidak usah memikirkannya, lebih baik aku cari cara lain untuk membahagiakannya. Tapi apa yang harus kulakukan? Aku hanya manusia lemah, aku belum bisa berbuat apa-apa. Seandainya aku bisa keluar dari rumah ini, aku akan menghapus air matanya dan menghiburnya semampuku. Tapi aku tak kehabisan ide untuk membahagiakan wanita yang kusayangi ini, walaupun aku tak bisa berbuat apa-apa tapi aku bisa mengedor-gedor rumahku, supaya ia tau kalau aku merasakan apa yang ia rasakan. “maafin ayahmu ya nak, dia tak bermaksud menyakiti hati ibu dan hatimu, hanya saja mungkin ayahmu belum siap dengan keadaan ini, jangan khawatir ibu akan selalu menjaga dan merawatmu”. Aku merasa hujan yang begitu deras tiba-tiba berhenti tanpa ada pengantar gerimis. Dadaku yang sedari tadi sesak menahan amarah kini reda tak tau kenapa. Ternyata benar, ia tau kalau aku merasakan apa yang ia rasakan. Sepertinya kami memang satu hati, tak salah aku memilih tempat tinggal ini, aku ingin selalu tinggal di sini bersamanya. Ah, sebutan apa yang pantas kuberi untuyknya sebagai tanda terima kasih dan sayangku padanya? “IBU” sepertinya nama yang bagus dan nama yang membuat aku semakin akrab dan lekat dengannya. ***

“Apa? Jadi dugaan ibu selama ini benar?” tiba-tiba saja aku dikagetkan oleh sesuatu benda yang sepertinya bukan dari rumahku, karena kulihat di sekitar rumahku tak ada yang berubah, tetap utuh seperti biasanya. “kamu hamil, iya kan?” “maafin Vira bu, Vira khilaf” “sudah berapa bulan?” “Tiga bulan bu, maafin Vira bu, Vira mohon jangan beri tahu ayah masalah ini” “Terus, kenapa kamu bohongi ibu? Dan mana Ari? Apa dia tau kalau kamu sedang hamil?” “Bang Ari tidak mau tanggung jawab bu..” “maafin ibu nak, ibu tidak menyangka Ari berbuat ini padamu, seharusnya ibu melarang kamu berhubungan dengan dia”. Hening.. “Bu, sekali lagi Vira mohon maaf, dan izinkanlah Vira pergi dari rumah ini, Vira tidak mau buat malu keluarga, dan Vira juga tidak mau melihat ayah murka dan membentak-bentak Vira di depan anak Vira, biarlah Vira mencoba hidup mandiri dan menghidupi anak ini”. Bendungan air yang sedari tadi ditutup kini terbuka dan mengalir ke dataran rendah hingga membanjiri sawah-sawah yang kekeringan. ***

Bulan Mei ini genap sudah umurku tujuh bulan. Hidupku berantakan. Makanku tak teratur, dalam sehari belum tentu aku bisa makan, malah aku sering diberi minum oleh ibu. Minuman yang membuat aku pusing dan mual, ditambah lagi hisapan-hisapan aneh yang selalu membuat aku terbatuk-batuk. Aku merasa hidupku hampa. Perhatian yang dulu kudapat kini tak ada lagi, bahkan bila aku berdemonstrasi dan menjerit-jerit dari balik dinding rumahku meminta perhatian, ia malah menelantarkan aku dan menganggap suaraku adalah suara mahasiswa yang sedang berdemonstrasi keliling kampus supaya SPP diturunkan namun tak dihiraukan oleh rector. Ia tak lagi pernah mengelus-elus aku, ia bahkan sering memarahi aku. Entah apa salahku, tapi apa yang bisa kubuat di ruangan sebesar ini? Aku belum bisa berbuat apa-apa, aku hanya manusia lemah yang hanya bisa berteduh dan mondar-mandir di rumahku. Sungguh aku tak bisa berbuat apa-apa. “Oh ibu, kenapa engkau berubah? Aku butuh kasih saying mu!” Aku mencoba menendang-nendang dinding rumahku dengn kakiku yang tak seberapa, dan alangkah terkejutnya aku, ibuku sendiri mambantak-bentak aku. “Kamu bisa diam gak sih! Sakit atu! Kalau kamu nggak mau di dalam lagi keluar aja! Kamu pikir aku nggak keberatan bawain kamu terus, hah? Keluar aja deh..”, bentaknya. Siapalah aku? Kenapa aku berada di tempat ini pun aku tak tau, bahkan aku berada di sini, itu karena hasilperbuatannya, tapi kenapa aku diperlakukan seperti ini? Apa dosaku? Mungkin ini memang sudah jalan takdirku. Bentakan-bentakan tadi membuat aku semakin tadak betah di rumah ini, sepertinya ia mengharapkan agar aku cepat-cepat keluar dari sini. “oh ibu, aku terlanjur mencintaimu, aku mohon cintailah aku seperti waktu pertama kita bertemu yang aku dapat merasakan betapa engkau mengasihi aku”. Aku hanya bisa berpasrah diri kemana alur hidupku nanti akan kujalani. *** Lima bulan sudah aku merasa dicampakkan oleh ibuku. Tendanganku, tangisanku tak pernah dihiraukannya lagi. Hatinya kini bagaikan batu. Aku yang sudah sembilan bulan hidup bersamanya dan menjadi bagian dari tubuh dan hidupnya tak lagi bisa menjadi air yang dapat melubanginya, hingga waktu itu tiba, waktu yang ditunggu-tunggu oleh ibuku. Sementara aku, aku tidak tau apa yang akan terjadi setelah ini. Aku hanya bisa menangis sekuat-kuatnya. Entah apa makna tangisku. Aku menangis karena akan berpisah dari rumahku, atau menangis karena akan berpisah dengan ibu yang terlanjur aku sayangi?aku tidak tau. Aku hanya berharap semoga di kehidupanku yang baru nanti ibuku berubah dan kembali memperhatikan aku. Tapi harapan itu musnah, dan semakin musnah kurasa sejak aku tau kalau ibuku meletakkan aku di tempat yang kotor dan bau seperti sekarang ini. Apakah di kehidupanku yang baru ini semua tempat seperti ini? Ah, entahlah. “Namun ketahuilah ibu..” “Sejak engkau meletakkan aku di sini ku berjanji aku tidak mau memanggilmu ibu lagi, aku benci kepadamu..”, teriakku dengan tangisan. Oek, oek, oek, aku terus menangis meminta tolong, aku benar-benar tidak tahan dengan tempat yang kumuh ini. Lebih baikaku berada di rumahku dulu daripada di tempat yang sekarang ini, meskipun tanpa perhatian. “Ibu.. angkat aku bu..” Tangisku mulai reda ketika ku dengar seseorang menghampiriku. “Mungkin itu ibu, aku yakin ibu tidak akan tega melihat anaknya di buang di tempat seperti ini”, harapku. Tapi harapan itu pupus ketika kulihat orang yang kupikir ibu itu membawa seseorang yang kurasa umurnya sama denganku. Orang itu meletakkannya tepat di sampingku lalu pergi. Kulihat wajah teman baruku itu, ia pun melihatku dengan wajah penuh iba. Dari mata ke mata kami berbicara. “Sungguh malang nasib kita”, itu yang dapat kuucapkan padanya. “Tak ada yang bisa kita lakuin kecuali dengan menangis”. Ucapnya padaku. Kami pun terus menangis sambil menunggu belas kasih dari orang hingga kami lelah.

About amisha syahidah

selalu ingin berbagi hikmah disetiap kejadian.

3 responses »

  1. ada tapi cuma terlihat bagi pemilik aja, ni juga lg belajar cara memunculkannya..
    maklumlah..blognya baru berumur 11 hari..hehehe
    slm kenal juga…saya jg sbnrx org medan lho…:)

    Balas
  2. Masa sich org medan tp medanx dimana kalo ak di tapsel

    Balas
  3. Aku disiantar, cuma sekarang ikut suami ke palu (Sul-Teng)
    biar lebih jelas liat aja di tentang nuun

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: