RSS Feed

Sebuah Lorong, 2 Nenek dan Panti Jompo

Setiap berangkat dan pulang kuliah, saya selalu melewati lorong sempit di belakang kos saya. Sebuah lorong yang berkelok-kelok dan selalu becek kalau hujan tiba. Di sepanjang lorong itu, ada 2 orang nenek yang hampir selalu bisa saya temui.
Nenek pertama berusia sekitar 65-an. Pagi-pagi buta, beliau sudah pergi kulakan ke pasar di Bale Endah (dulu di Dayeuhkolot). Walau gemuk, gerak-geriknya cekatan, bahkan kalau musim hujan tiba, nenek satu ini pergi ke pasar memakai sepatu boot. Jam 6-an ia sudah pulang naik andong dengan barang dagangan yang kadang sampai 2 karung besar. Dagangannya macam-macam dari sayur sampai jajanan anak-anak.
Nenek ini baik sekali pada saya, ketika saya mengalami kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit di Dayeuhkolot, dialah yang pertama kali datang –selain orang rumah– untuk menjenguk saya. Saya ditangisi dan diciumi seperti anak kecil, suatu hal yang bahkan nenek asli saya pun jarang melakukannya.
Jarak 1 rumah dari nenek pertama tinggallah nenek kedua berusia sekira 80-an. Tak peduli saya lewat pagi atau siang, nenek ini selalu duduk di kursi lusuh di pojok teras rumahnya. Tak ada yang dilakukannya, dia cuma duduk diam. Gelas seng besar dan rantang berisi nasi ikut-ikutan diam di samping bawah kursinya. Kalau ada orang lewat, dia menengok dan memandang dengan tatapan yang sulit saya jelaskan. Kadang saya beranikan diri menyapa, tapi tak pernah ada tanggapan berarti darinya, seulas senyuman pun tidak.
Satu hal yang membuat saya sering memikirkan nenek ini adalah kenyataan bahwa ia sering sekali menangis, bukan…bukan tangisan, mungkin lebih mirip rengekan, seperti suara keponakan saya yang kelelahan sehabis menangis meraung-raung meminta balon. Lirih, namun tak putus. Sambung-menyambung dengan irama yang konstan, ‘drenginging’ kalau kata orang Jawa. Tak jelas apa yang ditangisinya, kadang saya berpikir kalau nenek ini sepertinya menyesal masih hidup dalam usia lanjut tapi tak ada sesuatu berarti yang bisa dilakukannya, entahlah.
Pernah suatu kali sehabis sholat Idul Adha 2 tahun lalu, saya lewat lorong itu. Banyak orang berkerumun di rumah si nenek, saya langsung berpikir bahwa nenek itu meninggal dunia, tapi dugaan saya meleset, orang-orang memang mengerumuni nenek itu, tapi bukan karena ia meninggal dunia, melainkan karena ia menangis. Kali ini tangisannya lain dari biasanya, ia menangis tersedu-sedu, keras sekali. Sampai di rumah, ibu kos saya bercerita, seorang laki-laki dari keluarga itu –entah anak atau cucu si nenek– tewas ditusuk orang dalam suatu perkelahian di pusat perbelanjaan Kings.
Jelaslah bagi saya apa arti tangisan nenek tadi. Tangisan kehilangan yang buat saya lebih terdengar sebagai tangis penyesalan dan sebuah gugatan : “Tuhan, kenapa bukan saya saja yang sudah tua dan tak berguna yang diambil?”. Gugatan itu mungkin sudah terjawab sekarang, hampir 2 semester ini saya tak pernah melihat nenek itu lagi, mendengar tangisannya yang memilukan atau sekedar memikirkannya.
Ketika Sabtu lalu saya ikut bakti sosial di panti jompo ‘Paku Tandang’ di Ciparay, saya jadi teringat lorong dengan 2 nenek itu. Lorong yang mewakili gambaran kehidupan usia senja dalam 2 sisi yang bertolak belakang, sisi yang satu masih bisa dan bersemangat menyambung hidup sementara sisi kedua (mungkin) hanya bisa menangisi hidup yang berkubang dalam ketidakberdayaan.
Sama dengan gambaran yang saya dapat dari panti jompo itu, di satu sisi masih banyak kakek-nenek yang masih lincah, masih bisa berjoget, bernyanyi, senam, bahkan mencuci baju sendiri, tapi ketika saya tengok ruang rawat khusus yang tampak adalah wajah-wajah pasrah penghuninya, tak banyak yang bisa mereka lakukan, berjalan pun paling hanya bisa sampai ke kamar mandi, ada juga yang sama sekali tak bisa berjalan, semua kegiatan bahkan sampai buang hajat sekali pun mereka lakukan di tempat tidur. Aroma pesing adalah hal biasa di sana.
Obrolan dengan mereka jauh lebih menyengat ketimbang aroma pesing itu. Ada seorang nenek yang bercerita, anak laki-lakinya sekarang sudah jadi kepala di kantornya, “Tapi dia cuma bisa membahagiakan dirinya sendiri, istri dan anaknya” katanya. Anaknya ini jarang sekali menengoknya, toh nenek ini tetap berpesan pada saya dan teman saya, “Tolong kalau ketemu dia, bilangin Mamah Enin di sini”. Ketika kami berpamitan, doa dan pesan meluncur dari bibirnya, “Semoga kalian sukses, cepat dapat kerja biar kalau mau bantu orangtua tidak bergantung pada suami, biar tidak dibuang suami”. ‘Dibuang’, kata itu begitu menggelisahkan hingga terngiang terus di telinga saya.
Bagaimanapun, tak ada orang yang bercita-cita tinggal di panti jompo. Panti jompo adalah pilihan terakhir. Apalagi pilihan dibuang tadi, jelas tak ada oramg yang menginginkannya, tapi di dunia yang makin tua ini, makin banyak penghuninya yang tak lagi memiliki cinta dan perhatian, bahkan kepada orang tua sendiri. Banyak orang yang sukses jadi orangtua, tapi lebih banyak yang gagal menjadi anak. Apalagi bukan hal mudah merawat orang jompo, butuh kesabaran ekstra karena makin tua mereka, makin kembali sifat-sifat kekanakan mereka. Apapun itu, bukan hak saya menghakimi manusia dan dunia yang tak lagi mempedulikan para manula.
Benarkah para manula di panti jompo adalah orang-orang terbuang?, jawabnya tidak sepenuhnya benar. Banyak hal yang menyebabkan orang harus tinggal di panti jompo, ada yang memang sebatang kara, cerai dengan suami dan tidak punya anak, anak dan suaminya sudah lebih dulu pergi ke alam baka, atau keadaan ekonomi anaknya tidak memenuhi syarat untuk ia ikut tinggal bersama mereka, atau kemungkinan terburuk tadi : dibuang. Hanya sedikit yang beruntung bisa sering-sering dikunjungi anak-cucunya sementara yang lain hanya bisa berharap dari kunjungan sosial.
Meski keadaan di panti cukup layak, kadang terenyuh juga mendengar cerita mereka. Sakit kepala dan rematik di pinggang dan kaki agaknya jadi momok yamg paling sering menghantui kesehatan mereka. Ada seorang nenek yang sedang sakit saat itu, ketika masih ada acara di aula dia sudah minta pulang ke kamarnya, kepalanya pusing, kakinya pegal, badannya panas dingin, dan ada bintik-bintik kecil yang gatal di perutnya. Ketika saya tanya sudah minum obat belum, dia jawab obatnya tidak ada. Ketika saya tanya apa ia sudah ke dokter, dia jawab “teu gaduh artos” berlanjut dengan keluhan-keluhan lain dalam bahasa Sunda yang sayangnya hanya bisa saya tangkap sedikit maksudnya.
Satu yang pasti, mereka sangat senang jika dikunjungi, beberapa kali pertanyaan “Eneng mau berapa hari di sini?’ cukup mewakili hal itu. Belum lagi tangis mereka saat kami –peserta bakti sosial– harus pamit, mereka tampak berat melepas kami, seolah-olah kami ini cucu asli mereka.
Saya juga berat meninggalkan mereka karena terus terang mereka –para eyang ini– mengingatkan saya pada sosok yang tak pernah saya temui lagi 2 tahun terakhir ini, sosok yang dulu lebih dekat dan lebih banyak mengisi masa balita saya karena Ibu harus sering-sering menemani Bapak tugas di luar kota, menggendong saya kemana-mana dan meninggalkan kenangan tentang payung-payungan dari kertas, buah srikaya dan buah mentega, sebuah kenangan akan masa kecil yang manis. Mengingatkan saya pada rambut putih, mata abu-abu dan kulit keriput nenek saya yang meninggal dunia 2 tahun lalu. Juga mengingatkan saya pada sosok kakek yang tak sempat saya miliki karena mereka keburu dipanggil Pemiliknya sebelum saya lahir ke dunia.
Kunjungan kita, walau sejenak, setidaknya cukup membuat para eyang ini merasa berarti dan tidak merasa sendirian dan kesepian di dunia ini. Ketidakberdayaan mereka justru bisa dijadikan bahan renungan bagi kita, apa yang sudah kita lakukan saat 4JJI masih memberi semua kemudahan bagi kita : usia muda, kesehatan dan kekuatan?, apa yang seharusnya kita lakukan agar orangtua atau eyang kita sekarang atau nanti, tidak menangis tiap hari menyesali ketidakbergunaannya seperti kisah nenek kedua di lorong belakang kos saya dan tidak merasa terbuang seperti Mamah Enin di panti jompo?
Bahan renungan bahwa tidaklah penting panjang pendeknya usia seseorang, tapi yang lebih penting lagi adalah arah dan kualitas hidup itu sendiri. Kehidupan yang berlarut-larut tanpa arah dan tujuan yang jelas, justru akan menjadi beban sejarah ketimbang kebanggaan. Kalau sudah begini, sebuah ungkapan dari sajak Chairil Anwar : “Sekali berarti setelah itu mati” agaknya lebih pantas jadi pilihan.
Xxx
sumber : Eramuslim

Cerita di atas mengingatkan saya pada seorang nenek yang saya tonton di “Jika Aku Menjadi”, yang hidup sebatang kara dan semua kerjaan ia kerjakan sendiri begitu juga dalam mencari nafkah, tapi yang lebih membuat saya lebih terharu, ketika ditanya oleh Mahasiswi yang mengunjunginya, tentang apa yang paling ia inginkan jawabannya ialah hanya ingin bahagia dan ada yang menemaninya selama masa tuanya.

Dari cerita di atas juga mengingatkan pada nenek saya yang sekarang sedah berumur 86-an, tapi tetap tidak mau berdiam diri di rumah, maunya bekerja, walau sudah bungkuk tapi tetap semangat, dan jika dilarang bekerja, jawabnya malah, “justru kalau aku istirahat terus badanku jadi capek” gitu katanya.. ah, aku jadi kangen sama nenek yang biasa kupanggil opung ini..semoga masa tuanya selalu bahagia bersama cucu-cucunya.. karena tiada yang paling ditakuti orang yang sudah tua renta kecuali menghabiskan masa tua dalam kesendirian..
I love and miss you my grandma..

nah, ini dia foto opung ku n keponakanku.. walau sudah tua tapi masih kelihatan cantik..hehehe

About amisha syahidah

selalu ingin berbagi hikmah disetiap kejadian.

23 responses »

  1. salam bunda…
    emang bener bun, orang2 dulu justru rajin & giat bekerja, ga seperti orang2 sekarang….
    meskipun sudah tidak muda lagi, tapi semangat untuk beraktifitasnya melebihi yang masih muda…
    mudah2an semangatnya dalam bekerja bisa menjadi contoh buat kita semua ya bun…

    salaam

    Balas
  2. Jadi terharu bacanya mbak……… acara jika aku mejadi ada;ah salah satu acara yang saya suka mbak,, terkadang tak terasa air mata ini menetes melihat fakta yang didapat dari acara itu……… semoga opungnya mbak Amisha diberikan umur panjang mbak ………amin

    Balas
  3. kunjungan perdana nih, salam kenal dulu ya bunda..

    Balas
  4. kalau nenek saya, keluarga di Bali masih merawatnya di rumah…😮
    Kami gak tega mengiriminya ke panti jompo…😥

    Balas
  5. salam untuk opung ya mbaa😉

    Balas
  6. neneknya masih segar kelihatannya,,
    semoga beliau selalu dalam keadaan sehat dan semangatnya bisa kita tiru.

    Balas
  7. nenek di lorong itu kuat juga yah?
    salam buat mereka mbak…

    Balas
  8. aku pingin rawat mreka biar gak usah kerja lagi. kasihan nenek-nenek tua udah lemah dan pikun masih harus kerja.

    Balas
  9. rasanya pengen nangis membaca kisah mbak yu’..hehe…teringat sama nenek yang ada dikampung dech….

    Balas
  10. ehm, aku baca dari awal menyangka cerita itu tulisanmu, mbak, eh, ternyata dari Eramuslim, ya… benar-benar menggugah hati. kita sukses jadi orangtua, tapi seringkali gagal menjadi anak… ungkapan itu baru pertama kali aku mendengarnya.

    Balas
  11. Banyak orang yang sukses jadi orangtua, tapi lebih banyak yang gagal menjadi anak.
    Satu kalimat yang sederhana, tetapi amat sangat mengena, apalagi dijaman sekarang ini. Seolah olah orang tua adalah barang bekas yang perlu disisihkan. Padahal keberadaan kita asalnya dari Beliau.
    Beruntunglah orang orang yang sanggup memulyakan kedua orang tuanya.

    Balas
  12. Kaciankk liat nenek yang tinggal di panti jompo itu..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: