RSS Feed

ah, hidup…

Terik matahari menggigit kepalaku, siang ini sungguh beda dari biasanya, panasnya sekitar lebih dari 30 derjat. Membuatku malas untuk keluar, tapi beban tanggung jawab terasa berat dipundakku, dan aku harus pergi, karena hanya ini satu-satunya cara untuk aku dan keluargaku agar tetap bertahan hidup. Aku harus keluar, meski terik matahari begitu menyengat ataupun hujan yang begitu lebat. Karena aku harus terus giat bekerja, untuk adikku agar terus tetap melanjutkan sekolahnya, untuk ibuku yang sekarang sudah sakit-sakitan dan terutama untuk makan kami sehar-hari. Lalu bagaimana dengan kuliahku? Sungguh sayang jika aku tinggalkan, karena aku hanya butuh waktu 6 bulan lagi untuk aku menyandang gelar sarjana di namaku. Tapi, bagaimana dengan keluargaku? Aku punya tanggung jawab sebagai seorang anak laki-laki dan anak sulung.. Oh ayah.. jika saja engkau masih di sini.. menemani kami, tentunya hidupku tak akan seperti ini, dan aku akan dengan bangga memamerkan gelar itu, dan sebagai… aaaah sudahlah, aku harus tetap semangat.. dan tetap semangat..untuk apa aku berandai-andai, toh semuanya sudah terjadi, semuanya sudah berlalu.
“Bu, saya mau pamit neh, doakan semuanya lancar dan kita dapat rezeki banyak” sahutku pada ibu yang sedang mempersiapkan bekalku untuk di perjalanan nanti, maklumlah butuh satu minggu untuk aku menyelesaikan pekerjaan ini. Aku harus menagih hutang-hutang para penjual yang mengambil barang –barang milik bos ayahku dahulu, dan aku mendapat untung 10% dari berapa yang aku dapatkan pada si piutang tersebut. Yah, hanya ini yang dapat kami lakukan untuk menafkahi keluarga kami, aku harus melanjutkan pekerjaan ayahku dulu, dan syukurnya bos ayahku itu mau menerimaku, dan untuk semua itu aku harus membayarnya dengan bolos kuliah berhari-hari, bahkan berminggu.
Dalam perjalanan, membisu adalah teman terbaikku, aku membisu sambil teringat ayahku yang sudah satu bulan meninggalkan kami, kemudian berpindah akan ibu dan adikku yang hanya berharap padaku, dan sesal pada kuliahku yang baru kini kusadari, pentingnya bersungguh-sungguh dan menggunakan waktu yang ada, tapi aku malah lengah dan banyak membuang waktu.. oh Tuhan… sebenarnya aku belum siap dengan keadaan ini, mengapa begitu cepat kau mengambil ayahku Tuhan? Tanpa terasa air mataku pun berjatuhan, begitu aku sadar aku langsung cepat-cepat membasuhnya. “Sudahlah dik, jangan terlalu di bawa ke pikiran, Allah itu tidak akan memberikan cobaan pada makhluknya diluar kesanggupannya, ini semua rencana Allah, dan yakinlah ada hikmah dibalik itu semua” kata teman ayahku yang sedari tadi telah memperhatikanku. Yah, alhamdulillah semua teman-teman ayahku di sini baik padaku, mereka selalu menasihatiku dan menghiburku, dan mereka juga yang memberi tahuku tata cara dalam pekerjaan ini. “Iya om, saya masih sedih, rasanya belum percaya kalau ayah sudah tiada”.
Xxx
Syukurlah, minggu ini aku mendapatkan uang yang lebih banyak dari minggu pertama aku kerja, itu berarti aku mendapatkan uang yang lebih juga, alhamdulillah ya Allah.. engkau memberikan rezki banyak untuk keluargaku kali ini, di perjalanan aku sudah tidak sabar ingin menyetorkan hasil yang ku dapat pada bosku, agar aku bisa menerima upahnya dan membawanya ke ibuku, aku begitu bahagia saat ini,wajah senyum ibu dan adik-adikku terbayang dalam benakku, oh, beginikah bahagianya mendapat hasil dari keringat sendiri?
Sesampainya di depan rumah bos aku langsung menyetorkan hasil kerjaku, dan Alhamdulillah kali ini aku menerima Rp. 2.000.000. aku begitu bahagia melihat uang yag ada di tanganku saat ini, dan aku langsung berlari mencari angkot menuju ke rumahku setelah mengucapkan terima kasih pada bos ku.
Sesampainya di rumah, seperti dugaanku, ibuku begitu bahagia menyambutku , baginya tiada yang membahagiakan hatinya kecuali aku pulang dengan selamat, dan ketika ku serahkan duit yang ku terima dari bosku, kebahagiaannya pun betambah. Berkali-kali dia mengucapkan syukur kepada Allah. “oh ya tadi bos menelpon, katanya 3 minggu lagi baru berangkat ke daerah Sibolga, tadi dia ingin memberitahumu tapi begitu kamu menerima duit katanya kamu langsung lari, jadinya dia menelpon ibu”, “oh iya bu” jawabku malu. “Ya sudah sekarang istirahat lah, supaya besok kuliah nya bisa fit” sambung ibuku
XXX
Seiring berjalannya waktu tanpa terasa dua bulan sudah aku jarang ke kampus, pekerjaanku semakin sibuk, selain melanjutkan pekerjaan ayahku yang memakan waktu berminggu-minggu, juga membantu adikku Syifa untuk mengantarnya kesana kemari menjual pakaian, “Aku juga ingin membantu keuangan keluarga kita bang” begitu katanya. Aku hanya ke kampus pada saat jam kuliah saja, dan aku semakin jarang bertemu dengan teman-temanku yang juga sibuk mengurusi skripsi. Disela-sela kesibukanku aku menerima pesan. Ku buka “ dari Mala salah satu teman selokal yang diam-diam aku menyukainya, tapi entah kapan aku bisa mengutarakannya, karna kutau, dia ataupun aku tak mungkin menjalin hubungan, kecuali jika aku sudah siap untuk menghitbahnya” “Assalamu’alaikum, teman-teman insyaallah minggu depan saya ujian skripsi, mohon doa dari teman-teman agar di beri kemudahan oleh Allah dan mendapatkan nilai terbaik”. Subhanallah tanpa terasa Mala akan selesai kuliah, sementara aku, masih menjalani perjalanan panjang. “Alhamdulillah, dan semoga ujiannya lancar, aamiin, maaf aku gak bisa datang karna minggu depan aku harus keluar kota, ma’annajah” balasku.
Hari-hari kujalani dengan kesibukan, aku hanya fokus pada kerjaan, mata kuliah semuanya sudah selesai, hingga akupun makin jarang ke kampus, teman-teman juga jarang menghubungiku lagi, aku begitu kabur akan kabar kampus.
Xxx
Malam ini kupandangi laptopku, kucoba tuk berkonsentrasi memikirkan judul dan mengetiknya di layar. Tapi sedikitpun tak ada kata yang muncul di otakku, bleng, betul-betul bleng, aku tak dapat ide sedikitpun. Dan yang ada aku malah memikirkan kejadian tadi siang. Wajah ibu yang tersenyum paksa terbayang diwajahku, Ibuku sedikit kecewa, karna hasil kerjaku minggu ini sangat sedikit, bisa dibilang tak cukup untuk kebutuhan keluargaku. tiba-tiba aku terbangun dari lamunanku karna bunyi sms dari hpku, “Salaamun’alaik, Selembut sutra, seindah rasa, berjuta makna, tak dapat terurai dengan kata-kata, karna kabar yang begitu bahagia, bagiku, bagi kita semua, mohon do’a restu dan kehadirannya atas walimah Nurmala dan Pratama pada tanggal 13 Maret 2011. Jazakumullah”.
Ha? Mala Menikah? Pupus sudah harapanku, bunga yang lama disiram kini telah dipetik orang..kini semua hilang, harapan dan impian. Aku merasa lengkap sudah penderitaanku, kuliah tak kelar, gadis pujaan diambil orang, dan hasil kerjaan yang mengecewakan.

About amisha syahidah

selalu ingin berbagi hikmah disetiap kejadian.

39 responses »

  1. Dunia terus berputar…. pekerjaan kadang memang bisa jadi berhala juga jika tidak pandai mengatur waktu… ceritanya bagus mbak

    Balas
  2. kasian dia,,, semoga saja tetep tabah dan tetep tawakal, ihlas bahwa itu adalah hanya skenario dari Allah untuk dijalaninya. …

    cerpennya bagus bun… ada kelanjutannya nda?😀

    Balas
  3. Kisah yang tragis banget ya..
    *sesenggukan dibuatnya*

    Balas
  4. dari awal ceritanya sudah mengharukan, kukira endingnya akan bahagia, eh malah tambah tragis…

    tapi yang namanya cerpen kan endingnya memang sering dibikin ngegantung, dan tergantung imajinasi pembaca bagaimana kelanjutannya. semoga si tokoh ‘aku’ meraih sukses dalam hidupnya, kemudian bertemu wanita yang lebih baik lagi dari nurmala…

    Balas
  5. Hidup memang tak mudah, ya. tak selalu mendapat yang kita harapkan.

    Balas
  6. cerpenya inspiratif..
    sangat dalam..
    salam kenal..

    Balas
  7. ternyata cerpen ya.. ^_^v

    Balas
  8. Assalaamu’alaikum wr.wb, Amisha…

    pengkisahan hidup yang sungguh mengharukan.
    Kita selalu alpa pada masa yang belum kita ketahui kejadiannya di masa depan.
    Kita selalu yakin dengan adanya ibu bapa yang masih hidup, kita berlengah-lengah tidak siap menghadapi hari muka jika mereka dipanggil pergi.

    Ahh, hidup selalu membuat kita lupa kepada roda kehidupan yang selalu berputar dan tidak tahu gimana jalan yang harus ditempuh di depan sana.

    Kisahnya menarik dan menjadi pengajaran buat kita.
    Salam kenal dan terima kasih udah berkunjung. Maaf ya, telat membalasnya.
    Salam mesra dari Sarikei, Sarawak.😀

    Balas
  9. hmm cerpen yang menarik.. bagus.. “

    Balas
  10. hiks…hiks… ceritanya tragis juga y mbak.. mbak pintar mmbuat cerpen. kpan2 bleh dunk buka2 rahasia cara membuat cerpen ala mbak Amisha walau cm dibuka rahasianya dkit tp bermanfaat.. y ya ya (smbil merengek maksa)

    Balas
  11. Salam knal mbak.. cerpennya bgus🙂

    Balas
  12. wah, sepertinya cat rumah baru nih.
    mantap🙂

    Balas
  13. Duh….jadi sedih ginih..

    Balas
  14. Salam kenal mbak Amisha…jauh amat ya dari Malang….mg bisa saling silaturahim…

    Balas
  15. tempatku kini justru terasa sangat dingin, angin kemarau terasa menusuk-nusuk

    Balas
  16. Ceritanya sangat bagus,banyak menyimpan hikmah,,dn juga menyadarkan kita,betapa lemahnya kita..

    Aku juga punya cerpen,tp ko ga pede dimuat kblog..

    Balas
  17. Hoalaaah endingnya. Huhu, sedih. Bener2 sad ending >.<

    Balas
  18. *cari tissue*

    hiks…ceritanya mengharu biru😀

    Balas
  19. kalo kita lihat cerita nya banyak penderitaan dan kegagalan tetapi dia anak laki2 yang penuh tanggung jawab..salut.

    Balas
  20. aha..ternyata cerpen, kirain…😳
    cerpen yang bagus mba🙂

    ah..hidup, terkadang penuh dengan kejutan yang tidak kita duga

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: