Pengumpan RSS

Category Archives: Kehidupan

Janganlah membenci seseorang meskipun dia sering menyakitimu

Bismillahirrahmanirrahim
Salaamun ‘alaikum

Membaca judul di atas, mungkin teman sekalian agak mengernyitkan kening, agak bingung atau apalah gitu, kenapa saya bilang janganlah membenci seseorang meskipun dia sering menyakitimu? Seperti yang saya pernah abadikan di status facebook saya bahwa “boleh jadi dengan mengenal orang yang kita benci itulah saat ini atau suatu saat nanti kita bertemu dengan seseorang yang dengannya kita menjadi lebih baik atau bahagia”. Masih bingung? Supaya tidak bingung di sini saya mau mengajak teman sekalian jalan2 lewat kisah berikut: Read the rest of this entry

ah, hidup…

Terik matahari menggigit kepalaku, siang ini sungguh beda dari biasanya, panasnya sekitar lebih dari 30 derjat. Membuatku malas untuk keluar, tapi beban tanggung jawab terasa berat dipundakku, dan aku harus pergi, karena hanya ini satu-satunya cara untuk aku dan keluargaku agar tetap bertahan hidup. Aku harus keluar, meski terik matahari begitu menyengat ataupun hujan yang begitu lebat. Karena aku harus terus giat bekerja, untuk adikku agar terus tetap melanjutkan sekolahnya, untuk ibuku yang sekarang sudah sakit-sakitan dan terutama untuk makan kami sehar-hari. Lalu bagaimana dengan kuliahku? Sungguh sayang jika aku tinggalkan, karena aku hanya butuh waktu 6 bulan lagi untuk aku menyandang gelar sarjana di namaku. Tapi, bagaimana dengan keluargaku? Aku punya tanggung jawab sebagai seorang anak laki-laki dan anak sulung.. Oh ayah.. jika saja engkau masih di sini.. menemani kami, tentunya hidupku tak akan seperti ini, dan aku akan dengan bangga memamerkan gelar itu, dan sebagai… aaaah sudahlah, aku harus tetap semangat.. dan tetap semangat..untuk apa aku berandai-andai, toh semuanya sudah terjadi, semuanya sudah berlalu. Read the rest of this entry

Sebuah Lorong, 2 Nenek dan Panti Jompo

Setiap berangkat dan pulang kuliah, saya selalu melewati lorong sempit di belakang kos saya. Sebuah lorong yang berkelok-kelok dan selalu becek kalau hujan tiba. Di sepanjang lorong itu, ada 2 orang nenek yang hampir selalu bisa saya temui.
Nenek pertama berusia sekitar 65-an. Pagi-pagi buta, beliau sudah pergi kulakan ke pasar di Bale Endah (dulu di Dayeuhkolot). Walau gemuk, gerak-geriknya cekatan, bahkan kalau musim hujan tiba, nenek satu ini pergi ke pasar memakai sepatu boot. Jam 6-an ia sudah pulang naik andong dengan barang dagangan yang kadang sampai 2 karung besar. Dagangannya macam-macam dari sayur sampai jajanan anak-anak.
Nenek ini baik sekali pada saya, ketika saya mengalami kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit di Dayeuhkolot, dialah yang pertama kali datang –selain orang rumah– untuk menjenguk saya. Saya ditangisi dan diciumi seperti anak kecil, suatu hal yang bahkan nenek asli saya pun jarang melakukannya. Read the rest of this entry