Pengumpan RSS

Category Archives: Puisi Nuun

Khusus Puisi

Teruntuk Suamiku

Teruntuk Suamiku

Suamiku,
Sepi berlalu dengan kehadiranmu
Kebahagiaan meliputi hari-hariku
Rahmat dari Nya sangat terasa di hatiku
Serpihan kasih sayang merasuk di kalbu

Suamiku,
Cintaku sungguh tak terhingga
Ikatannya seerat nyawa
Hanya kau sandaran Jiwa
Jauhpun kau ku ikut serta
Karena semua demi cinta

Suamiku,
Kini Tuhan sedang menguji kita
Kau di tempatkan jauh di mata
Tiada siapa tempat ku bersapa
Kini semua menjadi hampa

Suamiku,
Hari-hari kujalani penuh rindu yang siksa
Menunggu jalannya waktu terasa lama
Ku ingin selalu bersama
Mengakhiri jarak di mata.

“Amisha Syahidah”

Ungkapan Anti Biasa, Ungkapan Dengan HTML

Iklan

Rindu Kampung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

keluargaku tercinta

Sobat, kali ini saya ingin memposting tentang curhatan hatiku yang begitu merindukan kampung halaman, kampung di mana aku dibesarkan, kampung di mana begitu banyak kenangan, kenangan masa-masa kecil hingga dewasa dan juga kenangan bersama teman-teman, terlebih lagi bersama orang-orang tercinta yakni keluargaku sayang..

Sudah dua tahun lebih aku meninggalkan kampungku, dan itu sejak aku sudah berganti status menjadi seorang istri yang harus taat pada suami dan ikut kemanapun suami pergi. Sejak saat itu lah aku tak pernah menginjak kampungku lagi. Mudah saja sebenarnya jawabannya untuk menghapus rindu itu itu, “pulkam” yah, itu lah jawabannya.

Tapi jarak yang begitu jauh antara tempat tinggalku sekarang dengan kampungku masyaallah jauhnya, aku harus melewati tiga pulau terlebih dahulu. Dari Sulawesi sampai ke sumatera. Jauh banget kan? Read the rest of this entry

Sakit Lagi

Senja itu baru tiba Nak
Begitu indah nan mempesona
Tapi kau tampak muram Nak
Sambil merintih kau menjawab “sakit bunda,”

Ku sentuh tiap tubuhmu
Panas tinggi bersamamu
Sendu wajahmu mata nan sayu
Kenapa kau anakku?

Setiap detik waktu berjalan
Yang terdengar hanya tangismu
Segala cara bunda lakukan
Tangismu tak jua jemu

 

*cepat sembuh ya nak!*

teringat masa lalu

Sore ini sungguh kelabu
tak secerah hari-hari yang lalu
seminya pun tak lagi ku temu
hanya cerah, tapi abu-abu,
itu selaksa sore dalam hatiku

ingin ku buang bimbang itu
tapi, tak kuasa genggaman tanganku
sepenuhnya dia menghantuiku
dlm gulungan hati juga lelapku
semoga ia kan berlalu
lewat kenangan indah dahulu

Poetry Hujan: Sang Penjejak yang Hilang

Teringat sobatku dulu
dekat karena ukhwah
mengenalkanku banyak hikmah
melepaskanku dari cerita zahiliyah

aku larut dalam imannya
teduh dan penuh pandangan indah
ku pinta mengikuti jejaknya
jawaban senyum kulihat penuh berkah

jalan ini penuh bebatuan kawan
melewatinya penuh rintangan
meski hujan yang lebat menghadang
kemarau berkepanjangan
kau harus tetap berjalan
di sanalah indahnya perjuangan
meski begitu banyak pengorbanan
jawabnya penuh lantang

saat itu geloranya menyemangatiku
ikrar janji kutanam di hati
bisikku,akan mengikuti jejak petualangmu
kau, sang penjejak sejati

hingga kini, ku masih terus ikuti
jalan yang dia ucap penuh duri
namun tapaknya tak lagi kutemui
dia terbawa dalam lebatnya arus hujan di bumi.

*buat seseorang yang pernah mendakwahiku*

Puisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh
Bang Aswi dan Puteri Amirillis

Bayangan Semu

Rasa itu kian jauh
Saat ku tau simpatiku berlebih
Tapi hati yang buta selalu patuh
Pada perintah manusia yang keruh
Aku merintih malu

Ku coba menghapus, ah keluh
Itu yang selalu teradu dalam diriku
Mengharap terbuang tanpa jemu
Tanpa jerih, hingga semua berlalu
Aku semakin terjatuh

Parah,
Tanpa merasa alpa dan hina
Aku terus dirulung dosa
Menikmati indahnya dunia fana
Yang gemerlap penuh cinta buta

Hingga bayangan itu datang
Menghampiri malu jiwaku
Tak kuasa ingin melawan
Nuraniku patuh mohon ampunan

Kini, semua nyata berbeda
Ia hanya semu belaka
Ia hanya kenangan saja

Suramnya jalan awal cahaya
Istiqomah kuharap padaNya.

Coretan

Selaksa malam membungkam kata
Hingga bibir tak dapat bicara
Selembar kertas sedia tinta
Tapi, tak ada ucap hendak dikata

Biarlah pena merangkai kata
Dengan sendirinya menari ria
Entah apa hendak ditulisnya
Lewat hati ia mengira

Namun, kini pena kehabisan cerita
Kiraanya tak tertembus mata
Ia menulis coretan belaka
Hingga malam pun menutup mata.